Brurung piyik
Dari kejauhan terlihat gerombolan siswa beerdiri memandangi beberapa lembar kertas yang terpaku pada sebuahh majalah dindiing sekolah selepas waktu sekolah usai. Satu demi satu dari mereka mulai meniggalkan tempat tersebut dengan berbagai ekspresi penuh kemenangan. "Payahh"gerutu seorang siswa kelas tiga SMA. Bian adalah siswa tersebut,siswa yang sangat spesial karena tak satupun siswa kelas di sekolahnya yang mempunyai nilai lebih kecil darinya dalam setiap ujian. Beberapa menit yang lalu Brian kembali mencatakan nam,anya sebagi siswa dengan nilai terendai disekolahnya. Beruntung pencapaiannya masih dalam cakupan sekolah dan belum mencapai level nasional.
Sepertinilai ujianya, perawakan Brian juga yang paling kecil disekolahnya, Tak ayal kerap kali dirinya diberikan julukan sebai burung piyik. Burung yang merupakan anakan dari merpati. Brung kecil yang terkenal akan ketidakberdayaannya, Di kelasnya Brian punya seorang yang selalu dianggapnya sebagai pesaing terberat. Namanya adalah Christo, siswa yang selalu meletakkan namanya di pucuk daftar nilai dalam lembar kertas terpaku pada majalah dinding sekolah. Terlebih lagi nama Christo sudah banyak diminati oleh Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia untuk bisa bergabung sebagai mahasiswanya. Bila digambarkan, Christi ibarat burung elang dengan segala daya dan kharismanya. Brian dan Christo bagaikan langit dan bumi, entah apa yang dipikirkan Brian hingga ia berani menyebut Christo sebagai pesaingnya.
Melompat, berlari, dan tertawa adalah serangkaian 'ritual'yang Brian lakukan setiap kali perjalanan pulang kerumahnya demi melepas penat disekolah. Meskipun terbelakang dalam pendidikanm Brian selalu tau cara untuk menghibur dirinya dan itulah yang menjaga dirinya agar tetap percaya diri ditengah segala kekurangan.
Hari berganti malam, Brian tiba dirumahnya. Seragamnya telah berganti menjadi pakaian tidur, tidak lama lagi bantal akan menghipnotis Brian menuju alam bawah sadarnya. Keesekon paginya, Brian bangun kesiangan dan bergegas merapikan diri untuk berangkat ke sekolah. Segala usahanya sia-sia, ia terlambat untuk masuk sekolah dan diberikan hukuman oleh pihak sekolah.
Terlambat dipagi hari sudah menjadi kebiasaan rutin dan terjadwal dengan jelas dalam daftar kegiatan Brian sehari hari. Bahkan sekalipun ia bangun lebih pagi dari biasanya, Ia merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut sehinnga akhirnya ia tidur kembali agar diriya bangun kesiangan. Orang tuanya sudah sering mengingatkan sampai akhirya lelah dan membiarkan Brian sambil berharap kelak kesadarannya akan mucul.
Setelah melalui berbagai proses hukuman, Brian akkhirnya diijinkan masuk kelas. "HUUUUUU", seisi kelas menyambut kedatangannya dengan sambutan yang layak Brian dapatkan. Seharian di sekolah ridak ada momen special yang kali ini Brian dapatkan. Hanya tambahan pencapaian buruk yang menambah buruk track record semasa SMA.
Namun ternyata saat bel pulang berbunyi, Brian mendapatkan panggiilan dari Pak Tikno selaku kepala sekolahnya di SMA. Kamu hanya punya satu kesempatan terakhir, lusa akan diadakan ujian matematika dalam rangka persiapan ujian nasional untuk kelas tiga. Jikakamu menjadi yang paling buruk. Silahkan keluar dari sekolah ini, pesan pak Tikno kepada Brian yang membuatnya pusing tujuh keliling mengelilingi kepala barbie. Raut wajah depresi mulai terlihat nyata sepanjang perjalanan ia menuju rumahnya. Reputasinya akan hancur bila ia dikeluarkan dari sekolahnya. Lebih-lebih pesaingnya yaitu Christo tau. habislah Brian menjadi bahan hinaan.
Berubah total, Brian merubah segala yang ia rasa akan membantunya menyelematkan diri dari ancaman drop out. Orang tua Brian bahkan terheran-heran dengan sikap anaknya yang berubah total dan percaya bahwa Brian telah mendapatkan kesadarannya. Waktu Brian tidak banyak, ia percaya dirinya akan mampu melewati tantangan dari Pak Tikno dan memanfaatkan dengan kesempatan terakhir yang ia miliki.
Waktu telah selesai, segala persiapan dirasa sudah sangat matang. Brian sudah siap berangkat ke medan pertempuran. Tiba disekolah tak banyak yang bisa Brian persiapkan karena saat ia tiba ujian telah berjalan 15 menit dari total 90 menit. Dua haru belum mampu merubah kebiasaan Brian bangun kesiangan. Keringat bercucuran dan membasahi seragam sekolahnya. Tak jauh dari tempatnya berada ia melihat Christo dengan segala ketenangannya mampu menjawab soal demi soal dengan meyakinkan. Brian semakin panik hingga waktu ujian selesai dan lembar jawaban diserahkan kepada pengawas ujian. Meskipun terisi penuh Brian tetap mencemaskan hasil ujiannya.
Hari demi hari berlalu, tak sekalipun Brian meninggalkan Sholat lima waktu sekaligus memanjatkan doa demi kerberhasilan ujiannya. Brian memang rajin beribadah dan bukan hanya saat ia dalam kondisi terdesak tapi dalam setiap kondisi ia tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Satu-satunya yang bisa dibanggakan orang tua Brian terhadap anaknya.
Hari pengumuman telah tiba tepat satu minggu setelah ujian dilaksanakan. Dari kejauhan terlihat gerombolan siswa berdiri memandangi beberapa lembar kertas yang terpaku pada sebuah majalah dinding sekolah selepas waktu sekolah usai. Satu demi satu dari mereka mulai meninggalkan tempat tersebut dengan ekspresi penuh kemenangan. "Yeeeey", teriak salah seorang siswa disertai lompatan yang tinggi. Brian berhasil melewati tantangan yang Pak Tisno berikan. Ia berlari mengelilingi lapangan sekolah dan memeletkan lidahnya ketika bertemu dengan pesaing terberatnya,Christo. Nama Brian kini tak lagi berada diurutan terbawah. Kini namanya berada diurutan kedua dari bawah.
Brian berhasil menaklukan tantangan dengan segala kerja kerasnya tanpa perlu merubah dirinya menjadi serigala,harimau. atau hewan buas lainnya. Kini Brian sadar, mungkin burung piyik tidak akan pernah bisa mengepakkan sayap selebar burung elang. Tapi Brian yakin dan percaya, burung piyik juga bisa terbang tinggi. Bahkan lebih tinggi dari burung elang,
Sepertinilai ujianya, perawakan Brian juga yang paling kecil disekolahnya, Tak ayal kerap kali dirinya diberikan julukan sebai burung piyik. Burung yang merupakan anakan dari merpati. Brung kecil yang terkenal akan ketidakberdayaannya, Di kelasnya Brian punya seorang yang selalu dianggapnya sebagai pesaing terberat. Namanya adalah Christo, siswa yang selalu meletakkan namanya di pucuk daftar nilai dalam lembar kertas terpaku pada majalah dinding sekolah. Terlebih lagi nama Christo sudah banyak diminati oleh Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia untuk bisa bergabung sebagai mahasiswanya. Bila digambarkan, Christi ibarat burung elang dengan segala daya dan kharismanya. Brian dan Christo bagaikan langit dan bumi, entah apa yang dipikirkan Brian hingga ia berani menyebut Christo sebagai pesaingnya.
Melompat, berlari, dan tertawa adalah serangkaian 'ritual'yang Brian lakukan setiap kali perjalanan pulang kerumahnya demi melepas penat disekolah. Meskipun terbelakang dalam pendidikanm Brian selalu tau cara untuk menghibur dirinya dan itulah yang menjaga dirinya agar tetap percaya diri ditengah segala kekurangan.
Hari berganti malam, Brian tiba dirumahnya. Seragamnya telah berganti menjadi pakaian tidur, tidak lama lagi bantal akan menghipnotis Brian menuju alam bawah sadarnya. Keesekon paginya, Brian bangun kesiangan dan bergegas merapikan diri untuk berangkat ke sekolah. Segala usahanya sia-sia, ia terlambat untuk masuk sekolah dan diberikan hukuman oleh pihak sekolah.
Terlambat dipagi hari sudah menjadi kebiasaan rutin dan terjadwal dengan jelas dalam daftar kegiatan Brian sehari hari. Bahkan sekalipun ia bangun lebih pagi dari biasanya, Ia merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut sehinnga akhirnya ia tidur kembali agar diriya bangun kesiangan. Orang tuanya sudah sering mengingatkan sampai akhirya lelah dan membiarkan Brian sambil berharap kelak kesadarannya akan mucul.
Setelah melalui berbagai proses hukuman, Brian akkhirnya diijinkan masuk kelas. "HUUUUUU", seisi kelas menyambut kedatangannya dengan sambutan yang layak Brian dapatkan. Seharian di sekolah ridak ada momen special yang kali ini Brian dapatkan. Hanya tambahan pencapaian buruk yang menambah buruk track record semasa SMA.
Namun ternyata saat bel pulang berbunyi, Brian mendapatkan panggiilan dari Pak Tikno selaku kepala sekolahnya di SMA. Kamu hanya punya satu kesempatan terakhir, lusa akan diadakan ujian matematika dalam rangka persiapan ujian nasional untuk kelas tiga. Jikakamu menjadi yang paling buruk. Silahkan keluar dari sekolah ini, pesan pak Tikno kepada Brian yang membuatnya pusing tujuh keliling mengelilingi kepala barbie. Raut wajah depresi mulai terlihat nyata sepanjang perjalanan ia menuju rumahnya. Reputasinya akan hancur bila ia dikeluarkan dari sekolahnya. Lebih-lebih pesaingnya yaitu Christo tau. habislah Brian menjadi bahan hinaan.
Berubah total, Brian merubah segala yang ia rasa akan membantunya menyelematkan diri dari ancaman drop out. Orang tua Brian bahkan terheran-heran dengan sikap anaknya yang berubah total dan percaya bahwa Brian telah mendapatkan kesadarannya. Waktu Brian tidak banyak, ia percaya dirinya akan mampu melewati tantangan dari Pak Tikno dan memanfaatkan dengan kesempatan terakhir yang ia miliki.
Waktu telah selesai, segala persiapan dirasa sudah sangat matang. Brian sudah siap berangkat ke medan pertempuran. Tiba disekolah tak banyak yang bisa Brian persiapkan karena saat ia tiba ujian telah berjalan 15 menit dari total 90 menit. Dua haru belum mampu merubah kebiasaan Brian bangun kesiangan. Keringat bercucuran dan membasahi seragam sekolahnya. Tak jauh dari tempatnya berada ia melihat Christo dengan segala ketenangannya mampu menjawab soal demi soal dengan meyakinkan. Brian semakin panik hingga waktu ujian selesai dan lembar jawaban diserahkan kepada pengawas ujian. Meskipun terisi penuh Brian tetap mencemaskan hasil ujiannya.
Hari demi hari berlalu, tak sekalipun Brian meninggalkan Sholat lima waktu sekaligus memanjatkan doa demi kerberhasilan ujiannya. Brian memang rajin beribadah dan bukan hanya saat ia dalam kondisi terdesak tapi dalam setiap kondisi ia tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Satu-satunya yang bisa dibanggakan orang tua Brian terhadap anaknya.
Hari pengumuman telah tiba tepat satu minggu setelah ujian dilaksanakan. Dari kejauhan terlihat gerombolan siswa berdiri memandangi beberapa lembar kertas yang terpaku pada sebuah majalah dinding sekolah selepas waktu sekolah usai. Satu demi satu dari mereka mulai meninggalkan tempat tersebut dengan ekspresi penuh kemenangan. "Yeeeey", teriak salah seorang siswa disertai lompatan yang tinggi. Brian berhasil melewati tantangan yang Pak Tisno berikan. Ia berlari mengelilingi lapangan sekolah dan memeletkan lidahnya ketika bertemu dengan pesaing terberatnya,Christo. Nama Brian kini tak lagi berada diurutan terbawah. Kini namanya berada diurutan kedua dari bawah.
Brian berhasil menaklukan tantangan dengan segala kerja kerasnya tanpa perlu merubah dirinya menjadi serigala,harimau. atau hewan buas lainnya. Kini Brian sadar, mungkin burung piyik tidak akan pernah bisa mengepakkan sayap selebar burung elang. Tapi Brian yakin dan percaya, burung piyik juga bisa terbang tinggi. Bahkan lebih tinggi dari burung elang,
Komentar
Posting Komentar